Pages

Tuesday, November 1, 2016

Tears of a mother to be

The deepest lost a woman can have is lost the baby in her womb far before she can see it cries to the world.

Saya percaya bahwa menjadi orang tua adalah karunia yang membuat hati suka cita namun gundah gulana. Sering kali saya bertanya kepada diri saya, apakah saya benar mampu menjalani hidup sebagai orang tua? Sanggupkah saya menjadi tua sebagai ibu?

Terkadang pertanyaan nyinyir soal masa depan itu terasa bagai teror dari mafia-mafia keji yang bikin gelisah. Yang bisa saya lakukan hanya menghalau jauh-jauh pikiran gila itu. Toh pada kenyataannya menjadi seorang ibu adalah hal terindah yang pernah saya rasakan. Saya mengerti kenapa almarhumah mama saya begitu kuat demi menghidupi kami anaknya. I love you, ma, always and forever.

Namun malam ini saya hadir dengan getir hati yang sampai detik tulisan ini di publikasi, saya belum tahu bagaimana harus menyikapinya. Saya tertawa, mungkin orang akan berpikir saya tidak berperasaan, justru sesungguhnya tawa adalah cara saya menangis yang saya tidak tahu bagaimana mengekspresikannya.

Sahabat saya sejak masih di bangku Sekolah Dasar yang bulan September lalu resmi menikah, mengabari saya kalau dirinya keguguran. Tangisnya yang tak kunjung surut lewat telepon tadi, seperti menampar saya, mengiris hati lalu meleburnya bagai tepung terigu. Saya diam. Bingung. Saya hanya bisa berkata, "sabar, ikhlaskan ya." Meski saya tahu itu hal tersulit untuk dilakukan saat ini baginya.

Kehamilannya sangat berarti bagi saya, karena sejak awal saya yang menyuport dan menyertai perjuangan mereka. Saya selalu berdoa kehamilannya akan mulus dan menggembirakan. Namun realita belum berpihak pada bayangan kami. Sejak garis kedua samar samar hadir di testpack, dede (Astri; sahabat saya tersebut) sudah merasakan berbagai gejolak. Mulai dari pusing-pusing, sakit perut hingga melilit, dan pada akhirnya pendarahan ringan belakangan ini.

Pukulan berat ketika dokter mengabarkan bahwa bayinya sudah tidak ada. Meskipun sesungguhnya kesempatan untuk hamil lagi masihlah besar, kehilangan bayi yang belum matang tersebut sangatlah memilukan. Saya masih tidak bisa memosisikan diri saya dalam situasi dede. Dia dipaksa keadaan untuk menjadi tegar dan ikhlas. Berat sekali cobaannya.

Tapi saya percaya hal berat adalah ujian yang ditujukan untuk mempersiapkan dede dan suami agar kelak sang baby bertahan hingga bisa digendong nyata, mereka sudah mampu menjadi orang tua yang hakiki.

Bantu saya, beri saya cara agar bisa menghibur sahabat terkasih saya ini. Hatinya hancur, begitu pun saya. Kami terpukul dan sedih, namun saya ingin sekali mereka segera kembali bangkit dan tangis itu terganti senyum segera.

Ya Allah Maha segala-galanya, bantulah dede dan suami agar tabah, ikhlas dan kuat. Anugerahilah mereka bayi sehat bagi mereka setelah ini. Amin.

No comments:

Post a Comment