Pages

Sunday, April 14, 2013

Love ballads by a Teddy bear



                Aku tidak punya nama. Aku tidak punya pilihan. Aku hanyalah aku. Bila butuh, aku disayang. Bila sibuk, aku terlupakan. Tentu terdengar menyedihkan, namun nyatanya aku cukup menikmati hidupku. Hidup yang tidak pernah aku pilih. Aku cukup terpukau, aku bisa tiba pada titik ini. Such an unpredictable journey, so far...
                Aku tiba di sebuah ruangan bernuansa minimalis di bilangan selatan Jakarta. Aku menyaksikan dua manusia saling meluapkan rindu. Seorang gadis yang memiliki banyak hal dalam dirinya namun seperti tersesat dalam tantangan hidup. Jua seorang pria yang sepertinya pemalu, sangat sensitif namun penyayang, masih berusaha mencari kepercayaan pada apa yang terjadi. Pelukan erat menyatukan mereka berdua, lama, memudarkan rasa malu yang terpendarkan di awal.
                Mereka memadu kasih, sepasang adam dan hawa yang telah lama terpisah jarak. Sunyi. Mereka bercerita dalam diam. Mata saling bertemu, menatap dalam. Senyum, gincu yang memudar tak hentinya memberi lekuk dalam riang kerinduan. Gugup, kian lama saling tak berpeluk. Dan aku, sebuah boneka beruang berbulu kecil menyaksikannya sendiri. Aku bahagia. Sungguh! Seandainya... aku juga bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Seandainya...
                Tunggu dulu! Aku tidak sendiri! Michelle meletakkan aku di meja sebelah TV, di sana terduduk jua seekor keledai. Bukan, boneka keledai. Milik Paul, katanya. Ya, Michelle adalah nona peranakan Cina Indonesia yang mengasuh aku, menyayangi aku. Keledai itu tersenyum hangat menyapaku. Dia juga telah lama menyaksikan Paul di kamar ini. Paul yang merupakan bule, asli Belanda, mendekatkannya padaku. Ini seperti perjodohan!
                Aku dan si Donkey akhirnya merelakan diri untuk saling mengenal. Kami bosan menyaksikan Paul dan Michelle melepas kangen, menggelak tawa, juga saling merangkul. Aku pun mencoba memahami cerita Donkey, dia berasal dari Yunani. Aku? Aku asli buatan Indonesia. Cocok? Ah! Apa ini? Kenapa aku sudah berpikir jauh?


unfinished  short story by Ketty Tressianah

No comments:

Post a Comment