Pages

Saturday, February 19, 2011

Film? bubar jalan!

Alangkah lucunya negeri ini!
Ini adalah sebuah judul film lokal yang (sepertinya) bagus, sayangnya saya belum sempat menonton sampai diturunkan dari bioskop. Jadi teringat salah satu lirik lagu Zeke Khaseli, inti liriknya adalah sekalinya ada film lokal bagus cuma bertahan 5 hari.

Hari ini semua orang heboh akan berita pemberhentian distribusi film dari luar Indonesia atau film impor di Indonesia. Permasalahannya cuma satu, pajak bea cukai yang kelewat mencekik.

Kilahnya sih memajukan perfilman lokal, sayangnya justru menunjukkan betapa terpuruknya akal pikir beliau. Kalau sampai film-film berkualitas tidak tayang di bioskop, lalu bioskop bangkrut, dimanakah tokoh perfilman lokal bisa menayangkan filmnya?

Sebenarnya saya sih setuju kalau sampai tidak ada penayangan film lokal, karena hampir semuanya film asusila. Film pembodohan. Film yang enggak menghibur, enggak bermoral, enggak juga berkualitas. Bermodal pornografi dan pornoaksi. Yang menonton dan bilang itu bagus, pasti bagus bukan ceritanya, paling bagus pamer badannya. Saya jujur, dan yang berpikiran waras mestinya mengakui hal tersebut. Buat apa coba, ada uu pornografi pornoaksi, sedangkan itu cuma jadi wacana. Nyatanya, prakteknya (selalu) nihil. Tapi...

Ya, ada tapinya! Tapi, saya juga sedih, masih ada tokoh perfilman nasional berkualitas, intelek, yang akan terancam terhambat kreativitasnya akan hal ini. Sungguh menyedihkan. Saya jadi membayangkan, bagaimana rasanya jadi saya tidak bisa menikmati film kesayangan saya di bioskop. Seperti Harry Potter ke-7 part 2. Sedih dan miris.

Seharusnya tokoh perfilman nasional itu berkaca, kenapa perfilman Indonesia enggak berkembang.

@Keketketty: Film Hollywood lebih laku drpd film lokal, knp? Harusnya filmmaker lokal mikir, film tuh yg penting KUALITAS bkn kuantitas!!

Semoga pembuat kebijakan yang gue enggak tau siapa, pemerintah yang mana, pejabat yang mana, bisa cepet-cepet jadi orang pinter dan enggak semena-mena mengambil keputusan.

Kebijakan yang memiliki "kuasa" atas sesuatu, melambangkan keadaan negara yang memberinya kuasa.

Harapan saya pastinya, generasi kita, generasi selanjutnya, bisa memutus mata rantai kebodohan dan juga ketidakadilan. Korupsi dan kekerasan dieliminasi. Amin. Seburuk-buruknya Indonesia saya tetap cinta, meski amarah dan kesal membuncah.

Depend on us!

Groetjes,
Ketty Tressianah


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

No comments:

Post a Comment