Pages

Friday, April 16, 2010

Gue benci perpisahan, sekalipun itu bukan akhir segalanya

Yes, we are friends in all the way we have.
Yes, we are family in all happiness and sadness we have.
Yes, we are friends in all the situation between.
yes, we are family, because that we are.
Yes, now, the time is calling us to being mature.
Yes, we need to separate, but we dont need to forgeting each other.
It'll be hardest thing, to facing a good-bye-time.
you, and all of you, is the best things in the world.
Thanks God, i still alive, thanks God i have them, Thanks God.

Gue enggak pernah nyangka, waktu akan secepat ini menjalani hidup. Gue masih belum bisa terima sebenarnya soal akhir dari sebuah masa. SMA, sekolah menengah atas, masa terakhir dimana seseorang dinyatakan sebagai anak-anak dan setelah itu dia akan terus disebut orang dewasa, sekalipun mentalnya tidak mencerminkan. Seperti sebuah opera yang terus menguras tenaga dan emosi dalam jalannya, selalu membuat terkantuk-kantuk, membuat hati menegang, bahkan membuat senyum usah dihapus. Sayangnya sebah waktu di masa berseragam putih abu-abu itu telah berakhir. Dengan waktu yang kurang dari 365 hari smeua dinyatakan usai. Menjadi perjalanan terberat dan paling indah dalam sejarah. begitu pun buat gue.

Balada masa SMA. Seperti sebuah sinetron kedengarannya. Mungkir terbayang sebuah judul sinetron yang saking makmurnya mencapai season ke sekian. tapi ini berbeda. Objknya terus berjalan, bahkan kadang tidak terdefinisi. Gue sekarang diambang sebuah pertentangan soal perasaan. Satu sisi gue sangat senang menyambut sebuah libur panjang, di satu sisi gue berat meletakkan seragam dan mengucapkan perpisahan. Hari esok, tiada lagi umpatan, cacian makian, sumpah, dan serapah gue terhadap orang-orang dewasa yang membimbing ratusan murid dalam gedung persegi sempit berwarna hijau berlabel "SMA Negeri 65".

Sewaktu SMP, gue kaget mengingat gedung sekolah gue berlantai 4 dan luasnya bisa 3 kali gedung SMA gue. Lalu ketika SMA gue terperangkap dengan gedung dua lantai yang kalo buat mengulet setelah tidur saja mentok sana sini. Kecil. tapi jangan salah, hiruk pikuknya yang berada persis di garis nadi perekonomian jakarta barat membuatnya amat tersohor. Sampai gue keki sendiri mendapati tanggapan seseorang, "anaknya pasti pintar, soalnya sekolah disitu *menunjuk 65* soalnya yang masuk situ yang pintar-pintar doang." terharu? tersanjung? tersedak? tersandung!

Rasanya sekolah ini begitu sesak dan sempit. Denggan orang-orang penghuninya yang seperti sebuah boneka. Berlaju itu-itu saja! setiap langkah bersua lagi, lagi, lagi, lagi dan lagi. Rasanya bosan. Beggitulah hari-hari di murai kecil berwarna hijau, yang konon katanya unggulan Jakarta Barat ini. Dan lihat, hingga sekarang gue masih terus mencaci dan menyumpahserapahi sekolah gue. Gila! Tapi ini adalah bentukk kecintaan gue yang mendalam terhadap sekolah gue.

Rabu, 14 April 2010, jam 12.00 WIB. Hidup gue bagai tertohok. Ya, itu adalah hari terakhir gue mengemban kewajiban sebagai siswa SMA Negeri 65 Jakarta. Semua ujian telah terlampaui dengan manis, hanya tinggal menunggu hasil yang Insya Allah tidak mengecewakan pihak manapun. Amin.
Sekarang perpisahan benar-benar di depan mata. Sekarang gue juga belum tahu gue lulus atau enggak. Sekarang gue juga belum tau akan kuliah dimana gue. Masih ada dua minggu hingga pengumuman kelulusan, masih ada sebulan untuk pengumuman simak. Semoga Allah memberikan hasil yang paling tepat. AMIN.

Gue benci perpisahan, meskipun bukan akhir dari segalanya.
Gue akan sangat merindukan masa-masa gue tidur di kelas, enggak dengerin guru, bercanda, berbincang soal bahasan tujuh belas ke atas, ngatain orang, madol bareng-bareng, wisata kuliner, nyontek, sedih bareng. aaah. enggak ternilai harganya. Sekarang semuanya benar-benar cuma akan jadi kenangan. Harus siap menempuh hari-hari baru yang lain. beraaat sekali rasanya.

Sayang, semua teman-temanku, teman-teman SMA-ku, maafkan bila selama tiga tahun ini gue banyak salah, gue banyak bikin ulah, banyak berkonfrontasi. Terimakasih untuk semua pengertian,semua perhatian, semua pengalaman, semua canda, semua pelajaran, semua penghargaan. Sebuah kata-kata yang sulit terucap, tapi akan terus terasa, terimakasih.

Semua guru-guruku yang bijak dan sabar, mohon maaf untuk semua prasangka, doa, dan ucapan yang buruk. Maaf karena sebagai murid kami dan terutama saya kurang menghargai peluh anda. Terimakasih untuk semua ilmu, bimbingan, kesabaran, cerita, pengalaman. semua yang tidak pernah terbeli. Sekalipun berat, Terima kasih bapak ibu.

Waktu yang ada haruslah gue manfaatkan. gue benci melepas status gue sebagai anak SMA. Menjadi anak kuliah membuat gue merasa tua dan terlalu dewasa. kalau soal dewasa sih enggak apa, nah kalo tua? pernah mikir enggak sih, sedewasa apapun lo di SMA, lo tetap dianggap anak SMA, anak kecil, dan kita enggak suka itu. Tapi gue suka. Kalau udah kuliah, enggak lagi anka kecil. tapi orang gede, tua! Sekalipun sebenarnya bisa aja mentalnya engggak sesuai sama umur. gila! gue masih mau menjadi seorang anak SMA, tapi bukan berarti gue rela enggak lulus.

COMPLICATED!!!!

Selamat tinggal seragam putih abu-abu yang tersayang, selamat tinggal batik biru yang usianya belum genap setahun. Semoga kalian akan menemui aku semakin baik setiap harinya. Amin.

ini foto-foto yang diambil di hari-hari terakhir sebagai kelas 3. dari yang UN, pas intensif, yg US, dan ujian praktik. hari-hari yang gue rindukan.

2 comments:

  1. Aaaaahhh...di satu sisi gua merindukan semua kelakuan dan perilaku iblis di sekolah gua.. Di satu sisi gua kepingin maju beberapa langkah kedepan. Goodbye SHS! Hehehe!

    ReplyDelete
  2. yap masa SMA emang masa paling gak bisa dilupain. SMA manapun bakalan ngerasa gini

    ReplyDelete